Book Review: Montase by Windry Ramadhina

Ini salah satu buku yang aku beli karena penasaran dengan novel karya Windry Ramadhina. Awalnya, tak sedikitpun terbayang alur ceritanya. Saat aku membuka halaman pertama buku ini membuatku penasaran tentang kehidupan Rayyi.
BOOK review:

Montase by Windry Ramadhina

Judul Buku: Montase
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia 
Tebal: 368 Halaman
Tahun Terbit: 2012
Harga: 49,000 (http://www.bookoopedia.com)

Rating: 4.5/5

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan? Bagimu, impian itu adalah menjadi pembuat film dokumenter... Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan."
Sebuah kisah yang berawal dari seorang lelaki bernama Rayyi - mahasiswa di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Cerita ini diawali dengan kekalahannya dalam sebuah Festival Film Dokumenter Greenpeace yang diikutinya; Rayyi dikalahkan oleh seorang gadis asal Jepang bernama Haru Enomoto yang sedang melakukan studi banding di IKJ. Kesan pertama Rayyi terhadap gadis liliput dari Jepang itu tidak begitu baik - apalagi mengingat kekalahan yang masih tidak bisa ia terima. Namun, kehadiran Haru Enomoto dalam kehidupan Rayyi, secara perlahan mengubah diri lelaki itu dan juga masa depannya.
Selama ini Rayyi mengambil Peminatan Produksi - padahal yang sebenarnya ia inginkan adalah Peminatan Dokumenter. Semua itu terjadi karena latar belakang keluarga Rayyi: ayahnya, bernama Irianto Karnaya, adalah seorang sineas terkenal Indonesia yang telah memproduksi banyak film dan sinetron. Mau tidak mau, beban yang sama pun jatuh ke pundak Rayyi; dan tentu saja Ayahnya berharap anak satu-satunya dapat melanjutkan kesuksesannya. Akan tetapi, yang tidak diketahui oleh Ayah Rayyi, anaknya sembunyi-sembunyi mengikuti kelas Dokumenter IV - yang diajar oleh Samuel Hardi, seorang sutradara film dokumenter terbaik Asia.
"Ada sesuatu dalam film dokumenter, entah apa, yang menyebabkan aku sangat tertarik. Kejujurannya, mungkin, atau detail-detail autentik yang memperlihatkan kehidupan apa adanya. Barangkali juga, pemikiran yang membumi, kesadaran akan keberadaan masalah-masalah di dunia, dan kepedulian untuk mengatasi semua itu. Atau, bisa jadi, momen magis kala film itu usai dan aku merasa ada sesuatu yang berubah dari diriku."
Dengan mengikuti kelas Dokumenter, Rayyi lagi-lagi harus bertemu dengan Haru Enomoto - yang memang mengambil Peminatan Dokumenter. Dan untuk tugas pertama Dokumenter IV, entah apa yang membuat Rayyi memutuskan untuk merekam Haru dalam filmnya. Hal tersebut membuat Rayyi dan Haru menghabiskan banyak waktu berdua - dan perlahan-lahan Rayyi seperti tersedot oleh Haru, bahkan menjadi candu terhadap gadis Jepang itu.

Seiring berjalannya waktu, Rayyi pun semakin dekat dengan Haru dan ia membiarkan gadis yang ceroboh itu masuk ke dalam kehidupannya. Semakin mengenal Haru, Rayyi akhirnya mengetahui bahwa gadis itu sangat pandai melukis - tetapi ia memilih belajar dokumenter demi membahagiakan kedua orangtuanya. Saat itu, Rayyi merasa yang terjadi pada dirinya sangat serupa dengan Haru - akan tetapi juga sangat berbeda. Meskipun Haru tidak meraih impiannya untuk melukis, ia sama sekali tidak mempunyai penyesalan karena impiannya yang lebih besar adalah membahagiakan orangtuanya. Lewat Haru pula, Rayyi memperoleh kekuatan yang besar untuk meraih impiannya sendiri. Namun saat Rayyi mulai mempunyai perasaan lebih terhadap Haru, waktu yang mereka miliki bersama harus berakhir.

"Dia bergurau. Bibirnya tersenyum, tetapi ada kesedihan tersirat samar di matanya.
Bodohnya, saat itu aku tidak mengerti arti dari tatapan Haru yang pilu. Saat aku mengerti, itu sudah terlambat."
Baca kisah selengkapnya di Montase.